in

Vaksin Covid-19 di Indonesia Gratis, BPOM: Keamanan dan Efektivitas Vaksin Tetap yang Utama

JATENGINFO.CO – Vaksin Covid-19 di Indonesia Gratis, BPOM: Keamanan dan Efektivitas Vaksin Tetap yang Utama akan digratiskan untuk semua masyarakat tanpa syarat apapun.

Pemerintah juga menegaskan keamanan vaksin tetap menjadi yang utama, meski pemberian vaksin tak dipungut biaya apapun.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Badan POM menyampaikan, sesuai arahan Presiden Jokow Widodo (Jokowi) terkait penyediaan vaksin Covid-19 seluruh prosedur harus dilalui dengan baik dalam rangka menjamin keselamatan masyarakat, serta efektivitas vaksin termasuk tahapan uji klinik fase III.

“Badan POM berkewajiban mengawal ketat keamanan khasiat dan mutu vaksin COVID-19, sebelum dan selama digunakan dalam program vaksinasi nantinya,” ujar Lucia dalam keterangannya, Selasa (22/12/2020).

Terkait vaksin Sinovac, ia menyatakan BPOM tengah melakukan evaluasi keamanan khasiat dan mutu vaksin dengan merujuk standar internasional seperti WHO, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA), Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dalam melakukan evaluasi pemberian EUA.

Evaluasi vaksin tersebut dilakukan oleh Badan POM dan Komite Nasional Penilai Obat dan para ahli di bidang vaksin di antaranya dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dan para ahli di bidang vaksin.

Pengambilan keputusan berdasarkan landasan ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan dan bersifat independen.

“Untuk EUA, rekomendasi WHO menyebutkan data interim pengamatan 3 bulan setelah penyuntikan dapat digunakan sebagai dasar pemberian izin penggunaan darurat”, ujar Dr. Lucia.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa uji klinik fase III di Bandung berjalan sesuai timeline yang direncanakan, semua subjek (relawan) sudah mendapatkan dua kali penyuntikan diikuti pemantauan dengan periode 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan, untuk memastikan keamanan dan khasiat vaksin tersebut.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, vaksin yang diproduksi Sinovac juga diuji klinik di negara-negara lain termasuk Brazil, Turki, dan Chili.

“Peneliti akan mengumpulkan data-data tersebut dan melakukan analisis untuk kemudian dilaporkan ke Badan POM, yang selanjutnya dilakukan evaluasi sebelum vaksin digunakan untuk program vaksinasi,” jelas dia.

Dr.Lucia juga menegaskan, meski menggunakan skema EUA, aspek keamanan khasiat dan mutu harus tetap terpenuhi berdasarkan data pendukung yang memadai.

“Selain Sinovac kami akan melakukan langkah evaluasi yang sama untuk kelima jenis vaksin lain yang ditetapkan Keputusan Menkes,” ujar dia.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 9860 tahun 2020 dimungkinkan adanya perubahan jenis vaksin yang digunakan pemerintah, jika ada kandidat vaksin yang telah memenuhi persyaratan keamanan khasiat dan mutu yang ditetapkan menkes maka Badan POM akan melakukan proses evaluasi dan menerbitkan EUA.

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 ini bertujuan untuk mempercepat upaya menurunkan angka penularan, kesakitan, dan kematian karena COVID-19, yang harus dilaksanakan bersama dengan penguatan 3T (Tes-Telusur-Tindaklanjut) oleh Pemerintah, dan disiplin protokol kesehatan oleh masyarakat.

Serta menjalankan disiplin memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan siap divaksinasi saat vaksin siap.

Setelah Vaksin Covid-19 Ditemukan,Apakah Dunia Kembali Normal Seperti Sebelum Pandemi, Ini Kata Ahli

Di penghujung tahun 2020 ini, harapan bagi dunia muncul berkat temuan kandidat vaksin yang teruji keefektifan dan keamanannya.

Sebut saja kandidat vaksin dari Pfizer-BioNTech, Moderna, dan Oxford- AstraZeneca.

Sejumlah negara pun telah memberi izin penggunaan darurat (EUA) untuk pemakaian vaksin Covid-19.

Misalnya Inggris mengesahkan EUA untuk vaksin Pfizer-BioNTech pada Rabu (2/12/2020).

Kemudian Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Rabu (2/12/2020), memerintahkan vaksinasi berskala besar dengan menggunakan vaksin buatan Rusia, yakni Sputnik V.

Terbaru, AS kemarin Jumat (18/12/2020) mengesahkan EUA untuk vaksin Pfizer-BioNTech.

Seiring waktu, kebijakan ini tentu akan diikuti oleh negara-negara lain.

Namun yang kemudian menjadi pertanyaan, saat vaksin mulai disuntikkan apa artinya akan segera meredam pandemi dan mengubah hidup?

Mengingat angka infeksi Covid-19 yang tinggi dan masih terus bertambah, para ahli mengatakan bahwa kita masih harus menghadapi jalan panjang untuk memerangi virus corona SARS-CoV-2.

Mereka mengatakan, akan butuh waktu lama agar vaksin memiliki efek yang jelas.

Dilansir Healthline, Sabtu (19/12/2020), para ahli juga mengatakan agar orang-orang tetap harus melakukan pembatasan untuk beberapa waktu demi mengurangi penularan Covid-19.

Tidak ada perubahan yang terlihat dalam waktu dekat

Timothy Brewer, profesor kedokteran di divisi penyakit menular Davis Geffen School of Medicine di UCLA dan seorang profesor epidemiologi di UCLA Fielding School of Public Health mengatakan, penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa pembuatan vaksin juga perlu waktu dan permintaannya tinggi.

Oleh sebab itu, tidak akan ada perubahan langsung di masyarakat.

Kehidupan sehari-hari telah berubah total selama pandemi.

Vaksin tidak akan membuat kita kembali ke kehidupan “normal” seperti dulu dalam waktu dekat.

Brewer mengatakan kepada Healthline bahwa vaksinasi diprioritaskan untuk petugas kesehatan di garda depan dan lansia yang berisiko tinggi.

“Mengingat butuh waktu cukup lama untuk menangani mereka yang paling membutuhkan, kami tidak melihat perubahan nyata dalam waktu dekat. Dan tidak ada vaksin yang cukup memberi dampak berarti dengan segera,” katanya.

Dr. Dan Culver, seorang ahli paru di Klinik Cleveland juga tidak dapat memprediksi kapan perubahan akan terjadi.

Senada dengan Brewer, Culver berkata bahwa butuh waktu lama bagi vaksin untuk secara efektif mengubah arah pandemi.

Di luar poin Brewer tentang mendistribusikan sebanyak mungkin dosis vaksin kepada sebanyak mungkin orang, Culver mengatakan bahwa kita juga harus mempertimbangkan tekanan yang dialami sistem perawatan kesehatan saat ini.

“Apa yang terjadi bulan ini dalam hal pengendalian penularan virus akan berdampak pada sistem perawatan kesehatan hingga Februari,” katanya.

Mengingat jumlah kasus saat ini terus meningkat, kita harus bersiap untuk tingkat infeksi yang tinggi bertepatan dengan pelepasan vaksin secara bertahap.

Seperti kebanyakan inokulasi lainnya, vaksin Covid-19 memerlukan dua dosis, dipisahkan sekitar 3 hingga 4 minggu.

Brewer dan Culver mengatakan ini adalah standar untuk kebanyakan jenis vaksin lainnya.

Jika sudah vaksin apa langsung terlindungi dari virus?

Brewer dan Culver mengatakan masih belum ada data tentang bagaimana vaksin akan bekerja. Baik itu vaksin Pfizer-BioNTech, Moderna, dan Oxford-AstraZeneca.

Brewer berkata belum ada data yang bagus tentang apakah vaksin ini mencegah penularan.

“Ada kemungkinan Anda terlindungi dari sakit, tapi mungkin tidak mencegah Anda terinfeksi dan menularkan infeksi ke orang yang belum divaksinasi,” katanya.

Culver menekankan, ini berarti protokol pencegahan virus 3M (menjaga jarak minimal satu meter, memakai masker, dan mencuci tangan) harus tetap dilakukan.

Kendati vaksin tidak memberi perubahan yang cepat, tapi Culver dan Brewer mengatakan bahwa ini akan menekan angka kematian dan jumlah kasus infeksi.

Tak akan kembali ke kehidupan normal masa lalu

Dalam banyak hal, tidak ada lagi kehidupan normal seperti masa lalu.

“Akan ada new normal,” kata Brewer.

Dia berkata, dua tahun lalu mungkin kita akan dihampiri jika menggunakan masker di bank atau swalayan.

“Sekarang saya mendung, akan ada lebih banyak orang memakai masker dalam keadaan apapun dan di manapun,” imbuhnya.***